Senin, 03 Mei 2010
Kamis, 11 Maret 2010
Tapi nyatanya mata saya masih benderang, pikiran saya masih nyalang. Bukannya tidak ngantuk, saya ngantuk, sangat ngantuk. Bukannya tidak lelah, saya lelah, lelah sangat. Tapi saya masih ingin terjaga. Saya masih ingin menulis, ehm maaf, saya masih ingin mengetik. Saya masih ingin bercerita, ingin berbagi. Intinya, saya masih ingin bangun dan memberitahu semua orang akan apa yang membuat saya tetap terjaga saat ini.
Huffft... Saya bingung harus memulai dari mana. Kemampuan bercerita saya telah terdegradasi, sejak lama, saya sendiri lupa kapan tepatnya. Tapi walaupun tak pandai bercerita, saya tetap akan mencoba.
Besok saya pulang. Pulang ke kampung halaman. Kampus saya libur. Tiga minggu. Saya senang karena dapat bertemu keluarga saya. Dapat bermanja-manja pada ibu saya. Dapat bercanda dengan adik-adik saya. Liburan ini sudah lama saya nantikan, bahkan sampai membuat saya home sick dan tidak konsen ujian. Tapi kini, ada orang yang akan saya tinggalkan, dan mungkin saya akan merindukannya.
Saya tidak khawatir akan terkena sindrom kangen akut yang dapat membuat saya tidak menikmati liburan. Justru saya tidak terlalu yakin saya akan segitu kangennya, terlalu banyak hal yang dapat mengalihkan perhatian saya, dan saya adalah orang yang sangat gampang teralihkan. Justru sifat itulah yang saya cemaskan. Saya takut terlalu menikmati liburan sehingga saya melupakannya, melupakan waktu yang telah kami habiskan bersama dua bulan terakhir ini. Saya takut saya akan kehilangan rasa, saya takut semua menjadi datar kembali, Dan saya sangat malas untuk memulai dari awal, menata hati lagi.
Bukannya saya tidak yakin akan hubungan kami. Walau tidak 100% yakin, tapi saya akan berusaha keras membuktikan bahwa saya tidak mengambil keputusan yang salah. Hanya saja, saya cukup tahu siapa saya, saya paham sikap saya, dan saya takut saya benar-benar akan meniadakannya. Dan jika itu terjadi, saya akan sulit memaafkan diri saya sendiri karena menyiakan orang sebaik dia.
Selasa, 02 Maret 2010
Sudah lama sekali saya tidak "benar-benar" menulis,, maksud saya menulis karena memang diniatin menulis, bukan cuma iseng2 menghilangkan kebosanan.
Sabtu, 20 Februari 2010
sudah lama nih ga ngurusin nih blog...
Sabtu, 16 Mei 2009
Kenapa
sudah seminggu lebih aku tidak melihat senyumnya
dan aku penasaran apakah senyum itu masih ada dan masih sama manisnya
sudah seminggu lebih aku tidak melihat sosoknya
dan aku penasaran apakah ia masih sama dengan yang kuingat
sebenarnya apa yang dia punya?
hingga sanggup membuatku memperhatikannya
sebenarnya siapa dia?
hingga mampu membuatku selalu bertanya-tanya tentang dirinya
saat mengawali hari, aku selalu bertanya pada diriku
sempatkah aku melihat senyumnya
sempatkah aku mendengar sapaannya
sempatkah aku berbicara di hadapannya
tolong jawab pertanyaanku!apa yang membuatku penasaran akan dirinya?
apa yang membuatku ingin tahu, seberapa jauh aku dapat menerobos benteng dirinya?
sudah seminggu lebih aku tidak melihat senyumnya
dan aku penasaran apakah senyum itu masih ada dan masih sama manisnya
sudah seminggu lebih aku tidak melihat sosoknya
dan aku penasaran apakah ia masih sama dengan yang kuingat
I think I'm not falling in love
aku rasa aku sedang tidak jatuh cinta
karena aku tak memikirkannya di sepanjang waktu yang kupunya
karena aku tak menyebut namanya di setiap nafas yang ku hela
aku hanya memikirkannya jika aku sempat
,,ehm... mungkin 5 menit dalam sehari
saat ku tersadar dan bertanya akankah kutemui senyumnya hari ini
aku rasa apa yang kurasakan ini bukan cinta
karena tak pernah aku ingin mengikatnya di sampingku
karena tak pernah kurasakan sakit saat dia jauh dariku
aku hanya ingin mengenalnya lebih dekat lagi
dan aku ingin dia mengenalku lebih dekat lagi
aku hanya ingin melihat tawanya lebih sering lagi
Sabtu, 02 Mei 2009
Aku masih ingat masa-masa saat aku masih bersekolah, ketika aku tak bisa melewatkan satu hari pun tanpa membaca, ketika kuhabiskan waktu luangku dengan berkhayal dan mengembangkan imajinasiku, ketika begitu banyak ide dan cerita berseliweran di kepalaku, ketika aku sempat memendam cita-cita menjadi penulis atau pengarang yang menghabiskan hidupnya dengan berbagi cerita pada ribuan orang. begitu banyak yang ingin kutulis dan kusampaikan pada dunia, begitu banyak novel, cerpen, puisi, ataupun skenario yang bergumul di otakku minta dimuntahkan keluar dan dituangkan ke lembaran-lembaran kertas. minta dilahirkan, di beri nama dan diperkenalkan pada dunia. tapi aku selalu menolak permintaan mereka, menjanjikan bahwa suatu saat nanti aku akan membawa mereka ke dunia dan membiarkan semua orang tahu tentang mereka jika aku punya komputer nanti. aku memang menunda untuk melahirkan mereka hanya satu alasan tak berarti, tanganku malas menggorekan ideku pada helaian kertas. mereka akhirnya berhenti berontak. mengendap dalam pikiranku, dan aku sering membisikkan lagi janjiku pada mereka, meyakinkan mereka untuk tetap bersabar dan duduk tenang di salah satu sudut otakku.
waktu itu juga sedang maraknya komunitas blogger. dan aku ingin menjadi bagian dari komunitas tersebut, tulisanku di baca banyak orang, dan memiliki teman-teman baru. sejak SMA aku sudah mencoba untuk nge-blog. tapi karena aku belum mempunyai komputer, aku tidak bisa sering mengutak-ngatik blogku. dan sekali lagi aku berjanji pada sel-sel otakku untuk memindahkan muatan mereka ke dunia maya, suatu hari nanti jika aku punya komputer dan bebas mengetik tiap hari.
kini aku sudah hampir 2 tahun memiliki komputer, tapi aku belum memenuhi janji-janjiku tersebut. bahkan karena terlalu lama menunggu di sudut gelap dalam otakku, ide-ide yang kutimbun selama ini teroksidasi menjadi karat dan kerak. sudah tidak dapat kuingat lagi secara utuh. sebagian masih ingat garis besarnya, tapi sebagian benar-benar telah aku lupakan. bahkan blogku tetap tak terurus dan jarang kujamah. aku rasa otakku ngambek dan enggan lagi menunjukkan kreatifitasnya. aku tetap menjadi aku yang dulu, yang mals melahirkan ide-ideku ke dunia, dan membiarkan mereka berkarat di dalam otakku. otakku serasa mati.
aku berusaha menghibur ide-ide yang masih bertahan di otakku, aku mengatakan pada mereka bahwa suatu saat nanti mereka akan kulahirkan jika aku sudah punya laptop pribadi, dapat membayar pemakaian listrikku sendiri, dan telah berlangganan fasilitas internet. aku tak tahu apakah aku benar-benar bisa menepati janji tersebut atau aku akan mengulang kesalahan yang sama dengan membiarkan tumpukan ideku hanya menjadi kerak dalam otakku.karena aku rasa, jika aku memang berhasil mempunyai laptop pribadi, dapat membayar pemakaian listrikku sendiri, dan telah berlangganan fasilitas internet, aku sudah menjadi orang sibuk yang tak punya waktu luang untuk berkarya, tak punya kesempatan untuk berimajinasi. saat itu aku pasti telah berubah menjadi manusia yang tak jauh berbeda denga robot yang telah diprogram oleh rutinitas.
Senin, 16 Februari 2009
Aku pingin banget punya sahabat sejati, yang walau jarak puluhan kilometer memisahkan tidak sanggup merenggangkan hubungan kami. Sahabat tempat berkeluh kesah, yang akan merelakan pulsanya hanya untuk membalas sms-smsku yang sedang suntuk, yang memasukkan aku dalam urutan teratas orang yang akan ditelponnya jika ia dapat bonus pulsa, yang menjadikanku termasuk orang yang pertama tahu tentang peristiwa-peristiwa penting dalam hidupnya. Aku ingin dianggap berharga oleh orang lain, aku ingin melepas semua topengku dan menjadi aku yang benar-benar aku, aku ingin berbagi semua cerita dalam hidupku dengan seorang yang kuanggap sahabat dan menganggapku sahabat
Tapi sayangnya sampai sekarang aku belum menemukannya, orang yang menjadi bagian dari hari-hariku dan menjadikanku sebagai bagian dari hari-harinya, orang yang akan selalu kukenang dan mengenangku, orang yang selalu ada kapan pun aku membutuhkannya. tapi aku sudah capek mencari. Bisa dibilang aku sudah pesimis, trauma.. karena setiap kali aku merasa sudah menemukannya dan begitu kami terpisahkan jarak, aku harus menerima kenyataan bahwa aku salah
Aku selalu iri ketika seseorang menerima telpon dari temannya dan kemudian menghabiskan berjam-jam untuk saling berbagi cerita
Aku selalu iri ketika seseorang bersmsan dengan sahabatnya dan saling memberi nasihat
Aku selalu iri ketika seseorang telah menemukan sahabat sejatinya dan dapat mempertahankan hubungan itu sampai tua
Aku selalu ingin mempunyai seorang sahabat sejati, tidak hanya untuk masa kini, tapi yang juga akan bertahan hingga mati
Aku ingin seorang sahabat, yang dapat kukenalkan pada cucu-cucuku kelak
Seorang sahabat sejati yang tak lekang oleh waktu, yang tak luluh akan jarak
Seorang sahabat sejati yang benar-benar berbagijiwa denganku
04022009
Menari di atas awan
Meniti lenkungan pelangi
Bercanda dengan hembusan angin
Dan tersenyum pada bintang-bintang
Aku pun hanya bisa terpaku mengagumimu
Aku tak bisa membedakan
Apakah kau manusia atau malaikat yang turun dari surga
05022009
Kalau memang bidadari itu ada
Kau pastilah salah satunya
Dapat kubayangkan kau menghampiriku
Tersenyum dan bercerita tentang surga
Lalu kaubentangkan sayapmu
Mengajakku terbang bersama angin
Menari di antara rintik hujan
Menaburkan tawa di penjuru bumi
Dan jikalau saat itu tiba
Aku tak peduli lagi
Jika aku harus mati saat itu juga
05022009
Aku hanyalah setetes hujan
Yang tak bisa memilih akan jatuh kemana
Ke samudra luas dan menjadi debur ombak biru
Atau ke kubangan lumpur di pinggir jalan raya
Aku tidak bisa menentukan takdirku
Akankah aku menjadi air mineral dalam botol plastik
Atau membeku menjadi gunung es di kutub selatan
Aku tidak bisa mengatur jalan hidupku
Mungkinkah aku menjadi permata di tanah kering
Atau menjadi banjir dan dihujat manusia
Aku hanya setetes hujan
Yang tidak bisa memilih akan jatuh kemana
Yang tidak bisa menentukan takdirku
Yang tidak bisa mengatur jalan hidupku
Tapi aku selalu bersyukur diciptakan-Nya
Menjadi rintik hujan
Yang di tiap atomnya terdapat sepenggal harapan
03022009
Aku ingin menjadi secercah sinar
Yang menari di celah-celah angin
Yang bermain diantara gelombang
Yang bercanda dengan rerumputan
Yang bertegur sapa dengan ilalang
Yang menyusup di sela kata-kata
Yang menerobos lorong-lorong sunyi
Yang mendobrak celah-celah kehidupan
Yang mengusir keputusasaan
Yang memerangi kegelapan
Yang datang membawa harapan
Aku ingin menjadi secercah sinar
Yang menyebarkan cahaya
Di rongga-rongga jiwa manusia
Minggu, 19 Oktober 2008
udah hampir 2 bulan ku pulang kampung,
udah hampir 2 bulan juga blogku tidak kujamah,
bukan karena sudah malas atau bosan,
tapi karena terpaksa.
maklum rumahku terbilang jauh dari warnet..
alhasil aku jadi hampir tidak pernah online selama di rumah..
kali ini pun ku sempatkan untuk online sebentar, setidaknya untuk membuktikan bahwa ku masih hidup di sini...
oleh karena itu, aku pun mulai merasa kangen dengan Jakarta..
lucu memang,
selama di perantauan ku selalu rasa ingin pulang...
tapi setelah pulang ingin rasanya segera terbang lepas
melanglang buana dalam dunia metropolitan
Jumat, 08 Agustus 2008
Cinta
Sebenarnya apakah cinta itu…
Banyak para penyair yang berusaha mendefinisikannya
Tapi keluasan artinya tetap tak dapat dijabarkan
Banyak yang berusaha menjelaskan tanda-tanda kehadirannya
Tapi tetap tak dapat diprediksi dan dihindari
Cinta itu tiba-tiba datang dan enggan pergi
Tanpa memilih tempat dan waktu
Tiba-tiba dia terasa ada
Cinta itu memiliki banyak sisi dan segi.
Dapat terlihat indah, dapat pula memuakkan
Cinta itu penuh pertentangan
Kadang bahagia, kadang menyakitkan
Kadang timbul karena benci, kadang menimbulkan benci
Cinta itu tak dapat didefinisikan
Karena setiap berusaha diartikan
Cinta justru semakin membingungkan
Karena Cinta hanyalah sekedar cinta yang tak perlu definisi
Karena Cinta hanya ada untuk diakui keberadaannya
Kamis, 10 Juli 2008
Jumat, 13 Juni 2008
Pd suatu masa, ada sebatang pohon apel yang amat besar.Seorang anak laki-laki begitu gemar bermain di sekitar pohon apel itu setiap hari.Dia memanjat pohon tersebut, memetik serta memakan apel sepuas hatinya, dan adakalanya diaberistirahat lalu terlelap di perdu pohon apel tersebut. Anak lelaki tersebut begitu menyayangitempat permainannya. Pohon apel itu juga menyukai anaktersebut.
Masa berlalu. anak lelaki itu sudah besar danmenjadi seorang remaja. Dia tidak lagi menghabiskan masanya setiap hari bermain di sekitar pohon apeltersebut. Namun begitu, suatu hari dia datang kepadapohon apel tersebut dengan wajah yang sedih. "Marilah bermain-mainlah di sekitarku," ajak pohonapel itu." Aku bukan lagi anak-anak, aku tidak lagi gemar bermain dengan kau," jawab remaja itu." Aku mau sebuah mainan. Aku perlukan uang untukmembelinya," tambah remaja itu dengan nada yang sedih.Lalu pohon apel itu berkata, "Kalau begitu, petiklahapel-apel yang ada padaku. Juallah untuk mendapatkanuang. Dengan itu, kau dapat membeli permainan yang kauinginkan."
Remaja itu dengan gembiranya memetik semua apel dipohon itu dan pergi dari situ. Dia tidak kembali lagi selepas itu. Pohon apel itu merasa sedih. Masa berlalu.Suatu hari, remaja itu kembali. Dia semakin dewasa.
Pohon apel itu merasa gembira."Marilah bermain-mainlah di sekitarku," ajak pohon apel itu."Aku tiada waktu untuk bermain. Aku terpaksa bekerja untuk mendapatkan uang. Aku ingin membina rumahsebagai tempat perlindungan untuk keluargaku. Bolehkahkau menolongku?" Tanya anak itu." Maafkan aku. Aku tidak mempunyai rumah. Tetapi kauboleh memotong dahan-dahanku yang besar ini dan kaubuatlah rumah daripadanya." Pohon apel itu memberikancadangan.Lalu, remaja yang semakin dewasa itu memotong kesemua dahan pohon apel itu dan pergi dengan gembiranya. Pohon apel itu pun turut gembira tetapi kemudian merasa sedih karena remaja itu tidak kembali lagi selepas itu.
Suatu hari yang panas, seorang lelaki datang menemuipohon apel itu. Dia sebenarnya adalah anak lelaki yang pernah bermain-main dengan pohon apel itu. Dia telah dewasa."Mari bermain-mainlah di sekitarku," ajak pohonapel itu." Maafkan aku, tetapi aku bukan lagi anak lelaki yang suka bermain-main di sekitarmu. Aku sudah dewasa. Akumempunyai cita-cita untuk belayar. Malangnya, akutidak mempunyai perahu. Bolehkah kau menolongku?" tanya lelaki itu."Aku tidak mempunyai perahu untuk diberikan kepada kau. Tetapi kau boleh memotong batang pohon ini untukdijadikan perahu. Kau akan dapat belayar dengan gembira," kata pohon apel itu.Lelaki itu merasa amat gembira dan menebang batang pohon apel itu. Dia kemudiannya pergi dari situ dengan gembiranya dan tidak kembali lagi selepas itu. Namunbegitu, pada suatu hari, seorang lelaki yang semakin dimamah usia, datang menuju pohon apel itu. Dia adalah anak lelaki yang pernah bermain di sekitar pohon apel itu."Maafkan aku. Aku tidak ada apa-apa lagi untukdiberikan kepada kau. Aku sudah memberikan buahkuuntuk kau jual, dahanku untuk kau buat rumah, batangkuuntuk kau buat perahu. Aku hanya ada tunggul dengan akaryang hampir mati..." kata pohon apel itu dengan nadapilu."Aku tidak mau apelmu kerana aku sudah tiada bergigiuntuk memakannya, aku tidak mau dahanmu kerana akusudah tua untuk memotongnya, aku tidak mau batangpohonmu kerana aku berupaya untuk belayar lagi, akumerasa lelah dan ingin istirahat," jawab lelaki tuaitu."Jika begitu, istirahatlah di perduku," kata pohonapel itu.Lalu lelaki tua itu duduk beristirahat di perdu pohonapel itu dan beristirahat. Mereka berdua menangiskegembiraan.
Sebenarnya, pohon apel yang dimaksudkan didalam cerita itu adalah kedua ibu bapa kita. Bila kita masih muda, kita suka bermain dengan mereka.Ketika kita meningkat remaja, kita perlukan bantuanmereka untuk meneruskan hidup. Kita tinggalkan mereka,dan hanya kembali meminta pertolongan apabila kita didalam kesusahan. Namun begitu, mereka tetap menolongkita dan melakukan apa saja asalkan kita bahagia dangembira dalam hidup.Anda mungkin terfikir bahwa anak lelaki itu bersikapkejam terhadap pohon apel itu, tetapi fikirkanlah, ituhakikatnya bagaimana kebanyakan anak-anak masa kinimelayan ibu bapa mereka. Hargailah jasa ibu bapa kepada kita. Jangan hanya kita menghargai merekasemasa menyambut hari ibu dan hari bapa setiap tahun.
Label: cerita, dongeng, hikmah, jiwa, Kisah Pohon Apel, kisah rohani, orang tua
Menanti dalam sunyi
Termenung dalam sepi
Kapankah kau akan turun ke bumi duhai putri malam?
Bukankah kau telah berjanji padaku
Tuk datang menemuiku tiap purnama menjelang
Menemaniku di malamku yang sunyi
Menghapuskan rinduku padamu
Atau kau ingin aku yang berlari meniti awan
Mengepakkan anganku, terbang ke sisimu
Jejakkan kakiku di istanamu yang selalu menyilaukan khayalku
Telah lewat tengah malam, hai rembulan
Tapi kenapa masih tak kau biarkan ratumu menemuiku?
Akankah kau ingkari janjimu itu padaku?
Yang kau tiupkan di sela desah angin
Di kala rindu menusuk-nusuk kalbuku
Akankah kau dustai sumpahmu itu padaku?
Yang dipersaksikan keheningan malam
Di saat aku mulai terkapar tak berdaya karena rindu
Telah hampir fajar, wahai rembulan
Sudah hampir habis waktumu bersinar
Tapi mengapa ratumu tak kunjung melayang ke pelukanku
Tak tahukah dia bahwa hatiku telah sesak?
Terlalu penuh oleh rindu
Haruskah kuadukan kau pada sang mentari?
Agar dia tak lagi membiaskan sinarnya padamu
Biar kau dan ratumu hidup dalam gulita
Biar engkau kehilangan pesonamu
Agar aku tak perlu lagi melihat wajahmu
Agar aku tak perlu melihat keangkuhanmu
Agar aku tak perlu mengingatmu wahai ratu bulan
Wahai sang ratu bulan
Tak kau lihatkah cahaya mentari menyusup di sela bebukitan?
Telah hampir habis waktumu
Tapi mengapa kau tak kunjung datang?
Mengapa kau sungguh tega membohongi aku?
Haruskah kutunggu Tuhan menumbuhkan sepasang sayap di punggungku?
Agar aku dapat terbang menemuimu
Dan membawamu lari dari istana bulanmu..


